Rabu, 19 Juni 2019

Fiqih Berdoa


FIQIH BERDOA
Oleh: Dudung Ramdani, Lc
           
Ada sebagian para ulama yang mengatakan bahwa tidak berdoa itu lebih baik daripada berdoa. Mereka berdalil dengan beberapa hadits lemah dan hasil olah fikir. Di antaranya mereka berdalil dengan hadits berikut ini :
Abu Said berkata, bahwa Rasulullah Saw telah bersabda bahwa Alloh Swt berfirman,
مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ  وَفَضْلُ كُلَامِ اللهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ
“Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Qur`an dari berdzikir kepada-Ku dan meminta (berdoa) kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta-minta (berdoa), dan keutamaan firman Alloh atas semua ucapan adalah seperti keutamaan Alloh atas seluruh makhluk-Nya,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 2926, hadits hasan gharib, Jami At-Tirmidzi, hal. 863, terbitan Darussalam, Riyadh).
Mereka juga berdalil dengan hadits yang tidak jelas asal usulnya (Majmu Al-Fatawa, jilid ke-1,Tauhid Al-Uluhiyyah, hal. 183), yaitu :
وَمَا يُرْوَى أَنَّ الْخَلِيلَ لَمَّا أُلْقِيَ فِي الْمَنْجَنِيقِ قَالَ لَهُ جِبْرِيلُ : سَلْ قَالَ حَسْبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِي، لَيْسَ لَهُ إسْنَادٌ مَعْرُوفٌ وَ هُوَ بَاطِلٌ بَلْ الَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: حَسْبِي اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ...
وَأَمَّا سُؤَالُ الْخَلِيلِ لِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا مَذْكُورٌ فِي الْقُرْآنِ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ فَكَيْفَ يَقُولُ حَسْبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِي، وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ وَ قَد أَمَرَ الْعِبَادَ بِأَنْ يَعْبُدُوْهُ وَ يَتَوَكَّلُوْا عَلَيْهِ وَ يَسْأَلُوْهُ...
“Dan apa yang diriwayatkan bahwasanya Al-Khalil (Nabi Ibrahim AS) tatkala beliau dilemparkan (ke api) dengan manjaniq, maka Jibril berkata kepadanya, “Mintalah.” Ibrahim menjawab, “Aku tidak perlu meminta (berdoa), cukuplah bagiku Alloh yang tahu atas keadaanku ini.” Maka hadits ini tidak diketahui sanadnya. Hadits ini hadits batil. Justru yang terdapat di dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas bahwasanya Ibrahim AS berkata, “Cukuplah bagiku Alloh, dan Dia adalah sebaik-baik penolong…”
Adapun permintaan Ibrahim AS kepada Rabnya Azza wa Jalla ini telah disebutkan di dalam Al-Qur`an, bukan di satu tempat saja. Maka bagaimana mungkin beliau berkata, “Aku tidak perlu meminta (berdoa), cukuplah bagiku Alloh yang tahu atas keadaanku ini.” Sedangkan Alloh maha tahu atas segala sesuatu, dan Dia telah memerintahkan semua hamba-Nya untuk menyembah-Nya, bertawakkal dan meminta (berdoa) kepada-Nya…” (Majmu Al-Fatawa, jilid ke-1, kitab Tauhid Al-Uluhiyyah, hal. 183).
Kemudian, disebutkan pula tentang sisi negatif orang-orang yang berdoa. Mereka berkata,

Anggapan

Bantahan
1.
Jika ada seseorang yang berdoa meminta sesuatu kepada Alloh Swt. Kemudian jika sesuatu itu sudah tercatat di sisi Alloh Swt akan menjadi milik dia (orang yang berdoa tersebut), maka tidak ada manfaatnya berdoa. Demikian pula jika sesuatu itu ditaqdirkan bukan menjadi milik dia, maka berdoa pada saat itu tidak ada manfaatnya.
1.
Dikarenakan taqdir Alloh Swt itu tidak kita ketahui, maka kita diwajibkan untuk berikhtiyar dan berdoa di dalam mencari taqdir baik dari Alloh Swt tersebut.  Justru tidak berdoa merupakan bentuk salah langkah dari menjemput sebuah taqdir.
2.
Seseorang yang berdoa kepada Alloh Swt, akan dicap sebagai orang yang tidak rela atas ketentuan dari Alloh Swt. Dia hanya mencari kesenangan buat dirinya sendiri.
2.
Orang yang berdoa tidak menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak rela atas ketentuan dari Alloh Swt. Justru, dia berdoa karena dia yakin bahwasanya Alloh Swt maha kuasa atas segala sesuatu.
3.
Sesungguhnya Alloh Swt  maha tahu atas kondisi dan keadaan seluruh makhluk-Nya. Maka tidak berdoa merupakan salah satu bentuk kesopanan terhadap Alloh Swt.   
3.
Mengapa di dalam Al-Qur`an banyak disebutkan tentang doa-doa? Misalnya doa-doa para nabi dan rasul, juga doa-doa orang-orang yang saleh.  

Kemudian, sebagian besar para ulama mengatakan bahwa berdoa itu hukumnya mustahab dan sangat dianjurkan. Karena berdoa di dalam Islam disebut sebagai ibadah. Artinya, orang yang tidak mau berdoa, dia akan dicap sebagai orang yang tidak mau beribadah. Bahkan, Alloh Swt akan marah kepada hamba-Nya yang tidak mau berdoa kepada-Nya dan akan dicap juga sebagai orang yang sombong.
Rasulullah Saw bersabda,
عَنِ النُّعْمَانَ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ، ثُمَّ قَرَأَ: وَ قَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ. (غافر: 60). رواه أحمد.
Dari Nu’man bin Basyir RA, bahwasanya Nabi Saw telah bersabda, “Sesungguhnya berdoa itu termasuk ibadah,” kemudian beliau Saw membacakan ayat, “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina (QS Ghafir [40]: 60),” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3372, hadits hasan shahih, Jami At-Tirmidzi, hal. 1002, terbitan Darussalam, Riyadh).[1]
            Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ.
“Sesungguhnya orang yang tidak pernah berdoa kepada Alloh, maka Dia akan marah kepadanya,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3373; dari Abu Hurairah RA, sanadnya dhaif;
Jami At-Tirmidzi, hal. 1002, terbitan Darussalam, Riyadh).


Jika kita ingin doa-doa kita dikabulkan oleh Alloh Swt, selain kita berdoa dengan adab-abad berikut ini :
  1. Memulai berdoa dengan memuji Alloh Swt dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw.[2]
  2. Berdoa sepenuh hati.[3]
  3. Berdoa dengan menghadap ke arah qiblat.[4]
  4. Berdoa dengan suara yang sangat pelan.[5]
  5. Berdoa ketika sedang sujud.[6]
  6. Berdoa di tasyahhud akhir.[7]
  7. Berdoa ketika sedang shaum.[8]
  8. Berdoa di sepertiga malam terakhir. [9]
  9. Berdoa ketika sedang ibadah umrah dan haji.
  10. Menjaga perut kita dari makanan yang diharamkan.[10]
  11. dll.
Berikut ini, saya kutipkan resep berdoa dari Al-Qur`an dan Al-Hadits berikut ini :
  1. Berdoa dengan doa yang cukup panjang.
ﮉﮊﮋﮌﮍﮎﮏﮐﮑﮒﮓﮔﮕﮖﮗﮘﮙﮚﮛﮜﮝﮞﮟﮠﮢﮣﮤﮥﮦﮧﮨﮩﮪﮬﮭﮮﮯﮰﮱﯔﯕﯖﯗﯘﯚﯛﯜﯝﯞﯟﯠﯡﯢﯥﯦﯧﯨﯩﯪﯫﯬﯭﯮﯰﯱﯲﯳﯴﯵﯶﯷﯸﯺﯻﯼﯽﯾﭑﭒﭓ ﭔﭕﭖﭗﭘﭙﭚﭛﭜﭝ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji.” Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan,” (QS Alu Imran [3]: 190-195).
            Di dalam ayat di atas disebutkan berkali-kali kalimat, “Ya Tuhan kami, ya Tuhan kami, ya Tuhan kami, ya Tuhan kami, ya Tuhan kami.” Sampai akhirnya, Alloh Swt mengabulkan doa mereka, dengan kalimat-Nya, ”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.” Maksudnya yaitu bahwa Alloh Swt tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan (doa termasuk amal perbuatan), yaitu Alloh akan mengabulkan setiap orang yang berdoa dengan serius. Di antara tanda keseriusannya yaitu dengan berdoa terus-menerus tanpa pernah lelah maupun bosan.
            Berdoa
1.
ﮢﮣﮤﮥ

Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.
2.
ﮬﮭﮮﮯﮰﮱ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya.
3.
ﯚﯛﯜ ﯝﯞ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman.
4.
ﯥﯦﯧ

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami.
5.
ﯰﯱﯲ

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami.
Nah, semoga dengan cara seperti ini, kita panggil terus nama Alloh Swt di dalam doa-doa kita, ”Wahai Rab kami, sesungguhnya kami ini begini dan begitu, tolonglah kami dalam hal ini,” atau dengan doa, ”Wahai Rab kami, dan seterusnya dan seterusnya.”
  1. Berdoa dengan doa yang cukup singkat .
Kisah Nabi Musa AS
Dalam kondisi ketakutan, Nabi Musa AS pergi keluar dari Mesir. Beliau pergi menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang Mesir, setelah beliau membunuh seorang warga Mesir tanpa sengaja. Beliau pergi menuju kota Madyan yang terletak di sebelah timur Teluk Aqabah (yaitu teluk yang terdapat di Laut Merah).
Kalau dari Mesir, Nabi Musa AS harus berjalan ke arah timur sampai tiba di utara Teluk Aqabah dan kemudian turun ke selatan dari sisi timur Teluk Aqabah. Bayangkan alangkah jauhnya Nabi Musa AS melarikan diri, seorang diri melewati gurun dan padang pasir tandus.
Di perjalanan menuju kota Madyan, beliau melihat ada sekumpulan para lelaki yang sedang mengambil air dari sebuah sumur dan di belakang mereka ada dua orang gadis yang sedang berdiri. Akhirnya, Nabi Musa AS menolong keduanya.
ﭼﭽﭾﭿﮀﮁﮂﮃﮄﮅﮆﮇﮈﮉﮊﮋ
”Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku,” (QS Al-Qasas [28]: 24).
Maka, Alloh Swt mengabulkan doa Nabi Musa AS sebagai berikut ini :
ﯖﯗﯘﯙﯚﯛﯜﯝﯞﯟﯠﯡﯢﯤﯥﯦﯧﯨﯪﯫﯬﯭﯮﯰﯱﯲﯳﯴﯵﯶ
“Dia (Syu‘aib) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik,” (QS Al-Qasas [28]: 27).

Keadaan Nabi Musa AS

Jawaban dari Doanya
1.
Bujangan.

Dinikahkan.
2.
Tidak punya pekerjaan.

Diberi pekerjaan.
3.
Tidak punya rumah.

Tinggal dengan Nabi Syu’aib AS.
4.
Merasa ketakutan dari kejaran Firaun.

Sekarang merasa aman.

  1. Mengangkat tangan ketika berdoa. Apakah suatu keharusan?
Dari Ibnu Abbas, dia berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِعَرَفَةَ وَ يَدَاهُ إِلَى صَدْرِهِ كَاسْتِطْعَامِ الْمِسْكِينِ
”Aku pernah melihat Rasulullah Saw berdoa di Arafah, sedangkan kedua tangannya di dadanya seperti seorang miskin yang sedang meminta makanan,” (HR Ath-Thabrani).
Dari Ibnu Abbas, dia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَا جَعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْهِ إِلَى وَجْهِهِ.
”Adalah Rasulullah Saw apabila beliau berdoa, maka beliau menjadikan bagian dalam telapak kedua tangannya menghadap ke wajahnya,” (HR Ath-Thabrani).
Dari Abu Said Al-Khudriy RA,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو بِعَرَفَةَ وَكَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ نَحْوَ ثُنْدُوَتِهِ.
“Bahwasanya Rasulullah Saw pernah berdoa di Arafah, maka beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dadanya,” (HR Ath-Thahawiy).
Di dalam masalah ini, ada sebuah hadits yang dhaif sanadnya, dari Salman Al-Farisi, dari Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda,
إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ.
“Sesungguhnya Alloh itu Pemalu, Pemurah, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (berdoa), kemudian Alloh kembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3556; hadits hasan gharib; takrijnya : sanadnya dhaif, Jami At-Tirmidzi, hal. 1054, terbitan Darussalam, Riyadh).
            Kemudian, ada juga sebuah hadits shahih, riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا،  وَ إِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ  فَقَالَ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَ اعْمَلُوْا صَالِحًا، المؤمنون :51، وَ قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ، البقرة: 172، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلَ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ : يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَ مَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَ مَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَ غُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Sesungguhnya Alloh itu baik, Dia tidak mau menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Alloh telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sama seperti yang diperintahan kepada para nabi, maka Dia berfirman, ‘“Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan,’ (Al-Mukminun [23]:51), juga Dia berfirman,’Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu,’(QS Al-Baqarah [2]: 172), kemudian Rasulullah Saw menyebutkan seseorang yang bepergian jauh, sampai berdebu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit, ‘wahai rab, wahai rab,’ tapi apa yang dimakanannya berupa yang haram, dan yang dipakaiannya juga berupa yang haram dan semua bersumber dari yang haram, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, hadits no. 2346, Kitab Zakat, Bab Menerima Sedekah dari Pekerjaan yang Baik (Halal). hal. 413, terbitan Resalah Publisher Beirut Lebanon cet. ke-1)
Di dalam hal ini, para ulama telah berbeda pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa hukum asal di dalam berdoa adalah mengangkat kedua tangan. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa hukum asal di dalam berdoa adalah tidak mengangkat kedua tangan.
                  Akhirnya, diambil kesimpulannya sebagai berikut :
  1. Di dalam hadits dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa dalam sebuah kesempatan dan diriwayatkan bahwa beliau Saw mengangkat kedua tangannya. Maka, hukum berdoa dan mengangkat kedua tangan pada saat itu adalah sesuai sunnah Rasulullah Saw dan akan mendapatkan nilai ibadah kepada Alloh Swt.
Ibnul Qayyim berkata,
وَ قَدْ تَضَمَّنَتْ حَجَّتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سِتَّ وَقَفَاتٍ لِلدُّعَاءِ :
الْمَوْقِفُ الأَوَّلُ: عَلَى الصَّفَا، وَ الثَّانِيْ : عَلَى الْمَرْوَةِ وَ الثَّالِثُ: بِعَرَفَةَ، وَ الرَّابِعُ: بِمُزْدَلِفَةَ، وَ الْخَامِسُ: عِنْدَ الْجُمْرَةِ الأُوْلَى، وَ السَّادِسُ: عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ.
Dalam prosesi ibadah haji Rasulullah Saw, ada 6 (enam) kesempatan untuk berdoa :
    1. Berdoa ketika mendaki Bukit Shafa
    2. Berdoa ketika mendaki Bukit Marwah.
    3. Berdoa ketika wukuf di Arafah sampai terbenam matahari.
    4. Berdoa di Muzdalifah setelah shalat Subuh.
    5. Berdoa setelah Jumrah Ula.
    6. Berdoa setelah Jumrah Tsaniyah di hari-hari Tasyriq. (Zadul Ma’ad jilid 2, hal. 265, terbitan Resalah Publishers, cet. ke-2)
  1. Di dalam hadits dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa dalam sebuah kesempatan, tapi tidak diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw mengangkat kedua tangannya.
Maka jika ada seorang muslim yang berdoa pada kesempatan tersebut dan dia mengangkat kedua tangannya, maka hukumnya adalah bid’ah. Misalnya berdoa saat thawaf dan berdoa saat khutbah. Misalnya ada seorang khatib yang berdoa seraya mengangkat kedua tangannya di akhir khutbah Jumat. Maka perbuatannya ini termasuk bid’ah. Hal ini dikarenakan bahwa Rasulullah Saw berdoa di akhir khutbah Jumatnya tidak dengan cara mengangkat kedua tangannya, tetapi dengan cara mengacungkan telunjuknya. (Lihat Subulussalam, hadits dari Samurah bin Jundab, hal. 303 terbitan Dar Ibnu Hazem cet. ke-1)
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ رضي الله عنه قال: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ، رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ : قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَا يَزِيْدُ عَلَى أَنْ يَقُوْلَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَ أَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ.
Dari Umaroh bin Ruaibah RA, bahwasanya dia telah melihat Bisyir bin Marwan (berdoa) mengangkat kedua tangannya di atas mimbar. Maka Umaroh berkata, ‘Celakalah kedua tangannya, sungguh aku telah melihat Rasulullah Saw, tidak lebih dari berdoa dengan tangannya seperti ini, dan Umaroh berisyarat dengan jari telunjuknya.” (HR Muslim, hadits no. 2016, hal. 361, terbitan Resalah Publisher Beirut Lebanon cet. ke-1)
  1. Di dalam hadits tidak disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah berdoa dalam sebuah kesempatan. Akan tetapi banyak diriwayatkan bahwa kesempatan tersebut adalah waktu mustajab untuk berdoa. Misalnya berdoa di antara adzan dan iqamat.
عنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَالدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ.
Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, ”Doa tidak akan ditolak, di antara adzan dan iqamat,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3595; shahih; Jami At-Tirmidzi, hal. 1064, terbitan Darussalam, Riyadh).

Maka hukum mengangkat kedua tangan pada saat berdoa di kesempatan tersebut adalah di antara sebab terkabulkannya sebuah doa. Akan tetapi, jangan sampai dilakukan secara rutin, yaitu selalu berdoa dengan mengangkat kedua tangan. Cobalah, sekali-kali berdoa dengan tidak mengangkat kedua tangan. Sebab jika berdoa pada saat itu sambil mengangkat kedua tangan dilakukan secara terus menerus, maka orang-orang awam akan mengira jika mengangkat kedua tangan pada saat berdoa pada waktu tersebut adalah sunnah Rasulullah Saw. 

  1. Apakah harus mengusap wajah setelah berdoa?
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw,
إِذَا دَعَوْتَ اللهَ فَادْعُ بِبُطُوْنِ كَفَّيْكَ وَ لَا تَدْعُ بِظُهُوْرِهِمَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ.
“Jika engkau berdoa kepada Alloh Swt, maka berdoalah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu dan janganlah engkau berdoa dengan kedua punggung telapak tanganmu, dan apabila engkau telah selesai dari berdoa, maka usapkanlah kedua tanganmu itu ke wajahmu,” (HR Ibnu Majah, hadits no. 3866; Sunan Ibnu Majah, hal. 553, terbitan Darussalam, Riyadh).
Dari Umar bin Khaththab RA, dia berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ.
“Adalah Rasulullah Saw apabila beliau mengangkat kedua tangannya saat berdoa, maka beliau tidak menurunkan kedua tangannya sampai beliau usapkan keduanya ke wajahnya,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3386; hadits hasan gharib, takrijnya : sanadnya dhaif; Jami At-Tirmidzi, hal. 1005, terbitan Darussalam, Riyadh).

Walloohu a’lam  bish showaab.


















[1] Lihat juga HR Ahmad, hadits no. 18542
[2] Ada sebuah hadits diriwayatkan sebagai berikut :Dari Amer bin Malik Al-Janbiy, telah memberikan kabar kepada Abu Hani bahwasanya Amer telah mendengar Fadhalah bin ‘Ubaid RA berkata, “Rasulullah Saw pernah mendengar seorang lelaki berdoa di dalam doanya lalu dia tidak bershalawat kepada Nabi Saw. Maka beliau bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggil dan berkata kepadanya atau kepada yang lainnya, “Jika seseorang dari kalian berdoa, maka hendaklah dia memulainya dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian bershalawatlah kepada Nabi Saw, kemudian berdoa dengan apa yang dia kehendaki.” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3477, beliau berkata, ‘hadits hasan shahih.’ Jami At-Tirmidzi, hal. 1032, terbitan Darussalam, Riyadh).
[3] Rasulullah Saw,
ادْعُوْ اللهَ وَ أَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَابَةِ وَ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ.
“Berdoalah kalian kepada Alloh sedangkan kalian merasa yakin akan terkabulnya doa kalian, dan ketahuilah bahwasanya Alloh tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3479, dari Abu Hurairah RA; sanadnya dhaif).
[4] HR Al-Bukhari, hadits no. 6343, dari Abdullah bin Zaid dia berkata, “Rasulullah Saw keluar pergi ke lapangan ini ketika akan shalat istisqa, maka beliau berdoa dan beristisqa kemudian menghadap qiblat dan membalikkan selendangnya.” (Walaupun dibolehkan pula berdoa dengan membelakangi qiblat, contohnya ketika Rasulullah Saw berdoa meminta hujan pada saat beliau sedang khutbah Jumat; HR Al-Bukhari, hadits no. 6342 dari Anas bin Malik)
[5] Anjuran berdoa dan berdzikir dengan suara yang pelan terdapat di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Yaitu QS Al-A’raf [7]:55, HR Al-Bukhari, hadits no. 7386, dari Abu Musa dia berkata, “Kami pernah bepergian bersama Rasulullah Saw. Kemudian ketika kami mendaki, kami pun bertakbir. Maka beliau Saw bersabda, “Sayangilah diri kalian, sebab kalian tidak memanggil Dzat yang tuli juga gaib, tapi kalian memanggil Dzat yang Maha mendengar, Maha melihat dan sangat dekat.”
[6] HR Muslim, hadits no. 1083 dari Abu Hurairah RA, Kitab Shalat Bab Apa yang Dibaca saat Rukuk dan Sujud,, hal. 231, terbitan Resalah Publisher Beirut Lebanon, cet. ke-1
[7] Muttafaq Alaih, dari Abu Bakar RA. Bulughul Maram, Kitabush Shalat, Bab Shifatush Shalat, hadits no. 340 hal. 94, cetakan ke-4 1429/2008, Darus Salam Cairo, www.dar-alsalam.com e-mail : info@dar-alsalam.com.
[8] HR At-Tirmidzi, hadits no. 2526.
[9] HR Muslim, hadits no. 1772 dari Abu Hurairah RA.
[10] HR Muslim, hadits no. 2346, Kitab Zakat, Bab Menerima Sedekah dari Pekerjaan yang Baik (Halal). Dari Abu Hurairah RA, dia berkata bahwasanya Rasulullah Saw telah bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Alloh itu baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik-baik saja dan sesungguhnya Alloh telah memerintahkan orang-orang yang beriman seperti yang telah Dia perintahkan kepada para nabi, Dia berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mukminun [23]: 51). Juga Alloh Swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman. Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,” (QS Al-Baqarah [2]: 172). Kemudian Rasulullah Saw menceritakan tentang seseorang yang sedang bepergian jauh, badannya penuh debu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit, ‘Ya Alloh, ya Alloh,’ akan tetapi makanan, pakaian dan semua yang dia pakai bersumber dari harta haram. Bagaimana mungkin Alloh akan mengabulkan doa dia?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar