FIQIH BERDOA
Oleh: Dudung Ramdani, Lc
Ada sebagian para ulama yang mengatakan bahwa tidak
berdoa itu lebih baik daripada berdoa. Mereka berdalil dengan beberapa hadits
lemah dan hasil olah fikir. Di antaranya mereka berdalil dengan hadits berikut
ini :
Abu
Said berkata, bahwa Rasulullah Saw telah bersabda bahwa Alloh Swt berfirman,
مَنْ
شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا
أُعْطِي السَّائِلِينَ وَفَضْلُ
كُلَامِ اللهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ
“Barangsiapa yang disibukkan
oleh Al-Qur`an dari berdzikir kepada-Ku dan meminta (berdoa) kepada-Ku, maka
Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada
orang-orang yang meminta-minta (berdoa), dan keutamaan firman Alloh atas semua
ucapan adalah seperti keutamaan Alloh atas seluruh makhluk-Nya,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 2926, hadits hasan
gharib, Jami At-Tirmidzi, hal. 863, terbitan Darussalam, Riyadh).
Mereka juga berdalil dengan hadits yang tidak jelas
asal usulnya (Majmu Al-Fatawa, jilid ke-1,Tauhid Al-Uluhiyyah, hal. 183),
yaitu :
وَمَا
يُرْوَى أَنَّ الْخَلِيلَ لَمَّا أُلْقِيَ فِي الْمَنْجَنِيقِ قَالَ لَهُ
جِبْرِيلُ : سَلْ قَالَ حَسْبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِي، لَيْسَ لَهُ
إسْنَادٌ مَعْرُوفٌ وَ هُوَ بَاطِلٌ بَلْ الَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ: حَسْبِي اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ...
وَأَمَّا
سُؤَالُ الْخَلِيلِ لِرَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَهَذَا مَذْكُورٌ فِي الْقُرْآنِ فِي
غَيْرِ مَوْضِعٍ فَكَيْفَ يَقُولُ حَسْبِي مِنْ سُؤَالِي عِلْمُهُ بِحَالِي، وَ
اللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ وَ قَد أَمَرَ الْعِبَادَ بِأَنْ يَعْبُدُوْهُ وَ يَتَوَكَّلُوْا
عَلَيْهِ وَ يَسْأَلُوْهُ...
“Dan
apa yang diriwayatkan bahwasanya Al-Khalil (Nabi Ibrahim AS) tatkala beliau
dilemparkan (ke api) dengan manjaniq, maka Jibril berkata kepadanya, “Mintalah.”
Ibrahim menjawab, “Aku tidak perlu meminta (berdoa), cukuplah bagiku Alloh yang
tahu atas keadaanku ini.” Maka hadits ini tidak diketahui sanadnya. Hadits ini
hadits batil. Justru yang terdapat di dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas
bahwasanya Ibrahim AS berkata, “Cukuplah bagiku Alloh, dan Dia adalah
sebaik-baik penolong…”
Adapun
permintaan Ibrahim AS kepada Rabnya Azza wa Jalla ini telah disebutkan di dalam
Al-Qur`an, bukan di satu tempat saja. Maka bagaimana mungkin beliau berkata,
“Aku tidak perlu meminta (berdoa), cukuplah bagiku Alloh yang tahu atas
keadaanku ini.” Sedangkan Alloh maha tahu atas segala sesuatu, dan Dia telah memerintahkan
semua hamba-Nya untuk menyembah-Nya, bertawakkal dan meminta (berdoa) kepada-Nya…” (Majmu Al-Fatawa, jilid ke-1, kitab Tauhid
Al-Uluhiyyah, hal. 183).
Kemudian, disebutkan pula tentang sisi negatif orang-orang
yang berdoa. Mereka berkata,
|
|
Anggapan
|
|
Bantahan
|
|
1.
|
Jika
ada seseorang yang berdoa meminta sesuatu kepada Alloh Swt. Kemudian jika
sesuatu itu sudah tercatat di sisi Alloh Swt akan menjadi milik dia (orang
yang berdoa tersebut), maka tidak ada manfaatnya berdoa. Demikian pula jika
sesuatu itu ditaqdirkan bukan menjadi milik dia, maka berdoa pada saat itu
tidak ada manfaatnya.
|
1.
|
Dikarenakan
taqdir Alloh Swt itu tidak kita ketahui, maka kita diwajibkan untuk
berikhtiyar dan berdoa di dalam mencari taqdir baik dari Alloh Swt tersebut. Justru tidak berdoa merupakan bentuk salah
langkah dari menjemput sebuah taqdir.
|
|
2.
|
Seseorang
yang berdoa kepada Alloh Swt, akan dicap sebagai orang yang tidak rela atas
ketentuan dari Alloh Swt. Dia hanya mencari kesenangan buat dirinya sendiri.
|
2.
|
Orang yang berdoa tidak menjadikan dirinya
sebagai orang yang tidak rela atas ketentuan dari Alloh Swt. Justru, dia
berdoa karena dia yakin bahwasanya Alloh Swt maha kuasa atas segala sesuatu.
|
|
3.
|
Sesungguhnya
Alloh Swt maha tahu atas kondisi dan
keadaan seluruh makhluk-Nya. Maka tidak berdoa merupakan salah satu bentuk
kesopanan terhadap Alloh Swt.
|
3.
|
Mengapa di dalam Al-Qur`an banyak disebutkan
tentang doa-doa? Misalnya doa-doa para nabi dan rasul, juga doa-doa
orang-orang yang saleh.
|
Kemudian, sebagian besar para
ulama mengatakan bahwa berdoa itu hukumnya mustahab dan sangat dianjurkan.
Karena berdoa di dalam Islam disebut sebagai ibadah. Artinya, orang yang tidak mau berdoa, dia akan
dicap sebagai orang yang tidak mau beribadah. Bahkan, Alloh Swt akan marah
kepada hamba-Nya yang tidak mau berdoa kepada-Nya dan akan dicap juga sebagai
orang yang sombong.
Rasulullah Saw bersabda,
عَنِ
النُّعْمَانَ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ، ثُمَّ قَرَأَ: وَ قَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ
لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ
دَاخِرِيْنَ. (غافر: 60). رواه أحمد.
Dari
Nu’man bin Basyir RA, bahwasanya Nabi Saw telah bersabda, “Sesungguhnya
berdoa itu termasuk ibadah,” kemudian beliau Saw membacakan ayat, “Dan Tuhanmu
berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka
Jahanam dalam keadaan hina dina (QS
Ghafir [40]: 60),” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3372, hadits hasan shahih,
Jami At-Tirmidzi, hal. 1002, terbitan Darussalam, Riyadh).[1]
Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّهُ مَنْ لَمْ
يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ.
“Sesungguhnya
orang yang tidak pernah berdoa kepada Alloh, maka Dia akan marah kepadanya,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3373; dari Abu
Hurairah RA, sanadnya dhaif;
Jami
At-Tirmidzi, hal. 1002, terbitan Darussalam, Riyadh).
Jika kita ingin doa-doa kita dikabulkan oleh Alloh
Swt, selain kita berdoa dengan adab-abad berikut ini :
- Memulai berdoa
dengan memuji Alloh Swt dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw.[2]
- Berdoa sepenuh hati.[3]
- Berdoa dengan menghadap
ke arah qiblat.[4]
- Berdoa dengan
suara yang sangat pelan.[5]
- Berdoa ketika sedang sujud.[6]
- Berdoa di tasyahhud akhir.[7]
- Berdoa ketika sedang shaum.[8]
- Berdoa di sepertiga malam terakhir. [9]
- Berdoa ketika sedang ibadah umrah dan haji.
- Menjaga perut kita dari makanan yang
diharamkan.[10]
- dll.
Berikut ini, saya kutipkan resep berdoa dari Al-Qur`an dan
Al-Hadits berikut ini :
- Berdoa dengan doa yang cukup panjang.
ﮉﮊﮋﮌﮍﮎﮏﮐﮑﮒﮓﮔﮕﮖﮗﮘﮙﮚﮛﮜﮝﮞﮟﮠﮡﮢﮣﮤﮥﮦﮧﮨﮩﮪﮫﮬﮭﮮﮯﮰﮱﯓﯔﯕﯖﯗﯘﯙﯚﯛﯜﯝﯞﯟﯠﯡﯢﯣﯤﯥﯦﯧﯨﯩﯪﯫﯬﯭﯮﯯﯰﯱﯲﯳﯴﯵﯶﯷﯸﯹﯺﯻﯼﯽﯾﭑﭒﭓ ﭔﭕﭖﭗﭘﭙﭚﭛﭜﭝﭞ
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami,
tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah
kami dari azab neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan
ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada
seorang penolong pun bagi orang yang zalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada
Tuhanmu,” maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan
hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang
yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan
kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari
Kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji.” Maka Tuhan mereka
memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak
menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun
perempuan,” (QS Alu Imran [3]:
190-195).
Di dalam ayat di atas
disebutkan berkali-kali kalimat, “Ya Tuhan kami, ya Tuhan kami, ya Tuhan
kami, ya Tuhan kami, ya Tuhan kami.” Sampai akhirnya, Alloh Swt mengabulkan
doa mereka, dengan kalimat-Nya, ”Maka Tuhan mereka memperkenankan
permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal
orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.” Maksudnya
yaitu bahwa Alloh Swt tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan (doa termasuk
amal perbuatan), yaitu Alloh akan mengabulkan setiap orang yang berdoa dengan
serius. Di antara tanda keseriusannya yaitu dengan berdoa terus-menerus tanpa
pernah lelah maupun bosan.
|
Berdoa
|
|||
|
1.
|
ﮡﮢﮣﮤﮥ
|
|
Ya Tuhan kami, tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia.
|
|
2.
|
ﮫﮬﮭﮮﮯﮰﮱ
|
|
Ya Tuhan kami,
sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau
telah menghinakannya.
|
|
3.
|
ﯙﯚﯛﯜ ﯝﯞ
|
|
Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman.
|
|
4.
|
ﯤﯥﯦﯧ
|
|
Ya Tuhan kami, ampunilah
dosa-dosa kami.
|
|
5.
|
ﯯﯰﯱﯲ
|
|
Ya Tuhan kami, berilah kami
apa yang telah Engkau janjikan kepada kami.
|
Nah, semoga dengan cara
seperti ini, kita panggil terus nama Alloh Swt di dalam doa-doa kita, ”Wahai
Rab kami, sesungguhnya kami ini begini dan begitu, tolonglah kami dalam hal
ini,” atau dengan doa, ”Wahai Rab kami, dan seterusnya dan seterusnya.”
- Berdoa dengan doa yang cukup singkat .
Kisah Nabi Musa AS
Dalam
kondisi ketakutan, Nabi Musa AS pergi keluar dari Mesir. Beliau pergi
menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang Mesir, setelah beliau membunuh
seorang warga Mesir tanpa sengaja. Beliau pergi menuju kota Madyan yang terletak
di sebelah timur Teluk Aqabah (yaitu teluk yang terdapat di Laut Merah).
Kalau dari
Mesir, Nabi Musa AS harus berjalan ke arah timur sampai tiba di utara Teluk
Aqabah dan kemudian turun ke selatan dari sisi timur Teluk Aqabah. Bayangkan
alangkah jauhnya Nabi Musa AS melarikan diri, seorang diri melewati gurun dan
padang pasir tandus.
Di
perjalanan menuju kota Madyan, beliau melihat ada sekumpulan para lelaki yang
sedang mengambil air dari sebuah sumur dan di belakang mereka ada dua orang
gadis yang sedang berdiri. Akhirnya, Nabi Musa AS menolong keduanya.
ﭼﭽﭾﭿﮀﮁﮂﮃﮄﮅﮆﮇﮈﮉﮊﮋ
”Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua
perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang
Engkau turunkan kepadaku,” (QS Al-Qasas [28]: 24).
Maka,
Alloh Swt mengabulkan doa Nabi Musa AS sebagai berikut ini :
ﯖﯗﯘﯙﯚﯛﯜﯝﯞﯟﯠﯡﯢﯣﯤﯥﯦﯧﯨﯩﯪﯫﯬﯭﯮﯯﯰﯱﯲﯳﯴﯵﯶ
“Dia
(Syu‘aib) berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan
salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau
bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun
maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan
engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik,” (QS Al-Qasas [28]: 27).
|
|
Keadaan Nabi
Musa AS
|
|
Jawaban dari
Doanya
|
|
1.
|
Bujangan.
|
|
Dinikahkan.
|
|
2.
|
Tidak punya pekerjaan.
|
|
Diberi pekerjaan.
|
|
3.
|
Tidak punya rumah.
|
|
Tinggal dengan Nabi
Syu’aib AS.
|
|
4.
|
Merasa ketakutan dari kejaran Firaun.
|
|
Sekarang merasa aman.
|
- Mengangkat tangan ketika berdoa. Apakah suatu
keharusan?
Dari
Ibnu Abbas, dia berkata,
رَأَيْتُ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِعَرَفَةَ وَ يَدَاهُ
إِلَى صَدْرِهِ كَاسْتِطْعَامِ الْمِسْكِينِ
”Aku pernah melihat Rasulullah Saw berdoa di
Arafah, sedangkan kedua tangannya di dadanya seperti seorang miskin yang sedang
meminta makanan,” (HR
Ath-Thabrani).
Dari
Ibnu Abbas, dia berkata,
كَانَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَا جَعَلَ بَاطِنَ كَفَّيْهِ إِلَى
وَجْهِهِ.
”Adalah Rasulullah Saw apabila beliau berdoa, maka
beliau menjadikan bagian dalam telapak kedua tangannya menghadap ke wajahnya,” (HR Ath-Thabrani).
Dari Abu Said Al-Khudriy RA,
أَنَّ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو بِعَرَفَةَ وَكَانَ يَرْفَعُ
يَدَيْهِ نَحْوَ ثُنْدُوَتِهِ.
“Bahwasanya Rasulullah Saw pernah berdoa di Arafah,
maka beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dadanya,” (HR Ath-Thahawiy).
Di dalam masalah ini, ada sebuah
hadits yang dhaif sanadnya, dari Salman Al-Farisi, dari Nabi Muhammad Saw,
beliau bersabda,
إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ
كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا
صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ.
“Sesungguhnya Alloh itu
Pemalu, Pemurah, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya
(berdoa), kemudian Alloh kembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3556; hadits hasan
gharib; takrijnya : sanadnya dhaif, Jami At-Tirmidzi, hal. 1054, terbitan
Darussalam, Riyadh).
Kemudian,
ada juga sebuah hadits shahih, riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, bahwasanya
Rasulullah Saw bersabda,
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا،
وَ إِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا
أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَ اعْمَلُوْا صَالِحًا، المؤمنون
:51، وَ قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ، البقرة: 172، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلَ السَّفَرَ، أَشْعَثَ
أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ : يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ
حَرَامٌ، وَ مَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَ مَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَ غُذِيَ بِالْحَرَامِ،
فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Sesungguhnya Alloh itu baik, Dia tidak mau
menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Alloh telah memerintahkan kepada orang-orang
yang beriman sama seperti yang diperintahan kepada para nabi, maka Dia
berfirman, ‘“Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang
baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan,’ (Al-Mukminun [23]:51), juga Dia
berfirman,’Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang
baik yang Kami berikan kepadamu,’(QS Al-Baqarah [2]: 172), kemudian Rasulullah
Saw menyebutkan seseorang yang bepergian jauh, sampai berdebu, dia mengangkat
kedua tangannya ke langit, ‘wahai rab, wahai rab,’ tapi apa yang dimakanannya
berupa yang haram, dan yang dipakaiannya juga berupa yang haram dan semua
bersumber dari yang haram, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim, hadits no. 2346, Kitab Zakat, Bab
Menerima Sedekah dari Pekerjaan yang Baik (Halal). hal. 413, terbitan Resalah
Publisher Beirut Lebanon cet. ke-1)
Di dalam hal ini, para ulama telah
berbeda pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa hukum asal di dalam berdoa
adalah mengangkat kedua tangan. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa hukum
asal di dalam berdoa adalah tidak mengangkat kedua tangan.
Akhirnya,
diambil kesimpulannya sebagai berikut :
- Di dalam hadits
dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa dalam sebuah kesempatan dan
diriwayatkan bahwa beliau Saw mengangkat kedua tangannya. Maka, hukum
berdoa dan mengangkat kedua tangan pada saat itu adalah sesuai sunnah
Rasulullah Saw dan akan mendapatkan nilai ibadah kepada Alloh Swt.
Ibnul
Qayyim berkata,
وَ قَدْ تَضَمَّنَتْ حَجَّتُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ سِتَّ
وَقَفَاتٍ لِلدُّعَاءِ :
الْمَوْقِفُ الأَوَّلُ: عَلَى الصَّفَا، وَ
الثَّانِيْ : عَلَى الْمَرْوَةِ وَ الثَّالِثُ: بِعَرَفَةَ، وَ الرَّابِعُ:
بِمُزْدَلِفَةَ، وَ الْخَامِسُ: عِنْدَ الْجُمْرَةِ الأُوْلَى، وَ السَّادِسُ:
عِنْدَ الْجَمْرَةِ الثَّانِيَةِ.
Dalam
prosesi ibadah haji Rasulullah Saw, ada 6 (enam) kesempatan untuk berdoa :
- Berdoa ketika mendaki Bukit Shafa
- Berdoa ketika mendaki Bukit Marwah.
- Berdoa ketika wukuf di Arafah sampai terbenam
matahari.
- Berdoa di Muzdalifah setelah shalat Subuh.
- Berdoa setelah Jumrah Ula.
- Berdoa setelah Jumrah Tsaniyah di hari-hari
Tasyriq. (Zadul Ma’ad jilid 2,
hal. 265, terbitan Resalah Publishers, cet. ke-2)
- Di dalam hadits
dijelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw berdoa dalam sebuah kesempatan, tapi
tidak diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw mengangkat kedua tangannya.
Maka jika ada seorang muslim yang
berdoa pada kesempatan tersebut dan dia mengangkat kedua tangannya, maka
hukumnya adalah bid’ah. Misalnya berdoa saat thawaf dan berdoa saat khutbah.
Misalnya ada seorang khatib yang berdoa seraya mengangkat kedua tangannya di
akhir khutbah Jumat. Maka perbuatannya ini termasuk bid’ah. Hal ini dikarenakan
bahwa Rasulullah Saw berdoa di akhir khutbah Jumatnya tidak dengan cara
mengangkat kedua tangannya, tetapi dengan cara mengacungkan telunjuknya. (Lihat
Subulussalam, hadits dari Samurah bin Jundab, hal. 303 terbitan Dar Ibnu Hazem
cet. ke-1)
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ رضي الله عنه
قال: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ، رَافِعًا يَدَيْهِ، فَقَالَ
: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَا يَزِيْدُ عَلَى أَنْ يَقُوْلَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَ أَشَارَ
بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ.
Dari Umaroh bin Ruaibah RA, bahwasanya dia telah
melihat Bisyir bin Marwan (berdoa) mengangkat kedua tangannya di atas mimbar.
Maka Umaroh berkata, ‘Celakalah kedua tangannya, sungguh aku telah melihat Rasulullah
Saw, tidak lebih dari berdoa dengan tangannya seperti ini, dan Umaroh
berisyarat dengan jari telunjuknya.” (HR Muslim, hadits no. 2016, hal. 361,
terbitan Resalah Publisher Beirut Lebanon cet. ke-1)
- Di dalam hadits tidak
disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw pernah berdoa dalam sebuah kesempatan. Akan
tetapi banyak diriwayatkan bahwa kesempatan tersebut adalah waktu mustajab
untuk berdoa. Misalnya berdoa di antara adzan dan iqamat.
عنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ
وَالْإِقَامَةِ.
Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, telah bersabda
Rasulullah Saw, ”Doa tidak akan ditolak, di antara adzan dan iqamat,” (HR
At-Tirmidzi, hadits no. 3595; shahih; Jami At-Tirmidzi, hal. 1064, terbitan
Darussalam, Riyadh).
Maka hukum mengangkat kedua tangan pada saat berdoa
di kesempatan tersebut adalah di antara sebab terkabulkannya sebuah doa. Akan
tetapi, jangan sampai dilakukan secara rutin, yaitu selalu berdoa dengan
mengangkat kedua tangan. Cobalah, sekali-kali berdoa dengan tidak mengangkat
kedua tangan. Sebab jika berdoa pada saat itu sambil mengangkat kedua tangan
dilakukan secara terus menerus, maka orang-orang awam akan mengira jika
mengangkat kedua tangan pada saat berdoa pada waktu tersebut adalah sunnah Rasulullah
Saw.
- Apakah harus mengusap wajah setelah berdoa?
Dari Ibnu Abbas, dia berkata, telah bersabda
Rasulullah Saw,
إِذَا دَعَوْتَ اللهَ فَادْعُ بِبُطُوْنِ كَفَّيْكَ وَ لَا تَدْعُ
بِظُهُوْرِهِمَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ.
“Jika engkau berdoa kepada
Alloh Swt, maka berdoalah dengan bagian dalam kedua telapak tanganmu dan
janganlah engkau berdoa dengan kedua punggung telapak tanganmu, dan apabila
engkau telah selesai dari berdoa, maka usapkanlah kedua tanganmu itu ke
wajahmu,” (HR Ibnu Majah,
hadits no. 3866; Sunan Ibnu Majah, hal. 553, terbitan Darussalam, Riyadh).
Dari
Umar bin Khaththab RA, dia berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ
فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ.
“Adalah Rasulullah Saw apabila beliau mengangkat
kedua tangannya saat berdoa, maka beliau tidak menurunkan kedua tangannya
sampai beliau usapkan keduanya ke wajahnya,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 3386; hadits hasan gharib, takrijnya :
sanadnya dhaif; Jami At-Tirmidzi, hal. 1005, terbitan Darussalam, Riyadh).
Walloohu a’lam
bish showaab.
[1]
Lihat juga HR Ahmad, hadits no. 18542
[2]
Ada sebuah hadits diriwayatkan sebagai berikut :Dari Amer bin Malik Al-Janbiy,
telah memberikan kabar kepada Abu Hani bahwasanya Amer telah mendengar Fadhalah
bin ‘Ubaid RA berkata, “Rasulullah Saw pernah mendengar seorang lelaki
berdoa di dalam doanya lalu dia tidak bershalawat kepada Nabi Saw. Maka beliau
bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggil dan berkata
kepadanya atau kepada yang lainnya, “Jika seseorang dari kalian berdoa, maka
hendaklah dia memulainya dengan memuji Allah dan mengagungkan-Nya, kemudian
bershalawatlah kepada Nabi Saw, kemudian berdoa dengan apa yang dia kehendaki.”
(HR At-Tirmidzi, hadits no. 3477, beliau berkata, ‘hadits hasan shahih.’ Jami
At-Tirmidzi, hal. 1032, terbitan Darussalam, Riyadh).
[3]
Rasulullah Saw,
ادْعُوْ اللهَ وَ أَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ
بِالإِجَابَةِ وَ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ
غَافِلٍ لَاهٍ.
“Berdoalah
kalian kepada Alloh sedangkan kalian merasa yakin akan terkabulnya doa kalian,
dan ketahuilah bahwasanya Alloh tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai
dan tidak serius,” (HR
At-Tirmidzi, hadits no. 3479, dari Abu Hurairah RA; sanadnya dhaif).
[4] HR
Al-Bukhari, hadits no. 6343, dari Abdullah bin Zaid dia berkata, “Rasulullah
Saw keluar pergi ke lapangan ini ketika akan shalat istisqa, maka beliau berdoa
dan beristisqa kemudian menghadap qiblat dan membalikkan selendangnya.”
(Walaupun dibolehkan pula berdoa dengan membelakangi qiblat, contohnya ketika
Rasulullah Saw berdoa meminta hujan pada saat beliau sedang khutbah Jumat; HR
Al-Bukhari, hadits no. 6342 dari Anas bin Malik)
[5]
Anjuran berdoa dan berdzikir dengan suara yang pelan terdapat di dalam
Al-Qur`an dan As-Sunnah. Yaitu QS Al-A’raf [7]:55, HR Al-Bukhari, hadits no.
7386, dari Abu Musa dia berkata, “Kami pernah bepergian bersama Rasulullah
Saw. Kemudian ketika kami mendaki, kami pun bertakbir. Maka beliau Saw
bersabda, “Sayangilah diri kalian, sebab kalian tidak memanggil Dzat yang tuli
juga gaib, tapi kalian memanggil Dzat yang Maha mendengar, Maha melihat dan
sangat dekat.”
[6] HR
Muslim, hadits no. 1083 dari Abu Hurairah RA, Kitab Shalat Bab Apa yang Dibaca
saat Rukuk dan Sujud,, hal. 231, terbitan Resalah Publisher Beirut Lebanon,
cet. ke-1
[7] Muttafaq
Alaih, dari Abu Bakar RA. Bulughul Maram, Kitabush Shalat, Bab Shifatush
Shalat, hadits no. 340 hal. 94, cetakan ke-4 1429/2008, Darus Salam Cairo, www.dar-alsalam.com e-mail : info@dar-alsalam.com.
[8] HR
At-Tirmidzi, hadits no. 2526.
[9] HR
Muslim, hadits no. 1772 dari Abu Hurairah RA.
[10]
HR Muslim, hadits no. 2346, Kitab Zakat, Bab Menerima Sedekah dari Pekerjaan
yang Baik (Halal). Dari Abu Hurairah RA, dia berkata bahwasanya Rasulullah Saw
telah bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Alloh itu baik dan tidak akan
menerima kecuali yang baik-baik saja dan sesungguhnya Alloh telah memerintahkan
orang-orang yang beriman seperti yang telah Dia perintahkan kepada para nabi,
Dia berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari (makanan)
yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mukminun [23]: 51). Juga Alloh Swt berfirman, “Wahai
orang-orang yang beriman. Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan
kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,”
(QS Al-Baqarah [2]: 172). Kemudian Rasulullah Saw menceritakan tentang
seseorang yang sedang bepergian jauh, badannya penuh debu, dia mengangkat kedua
tangannya ke langit, ‘Ya Alloh, ya Alloh,’ akan tetapi makanan, pakaian dan
semua yang dia pakai bersumber dari harta haram. Bagaimana mungkin Alloh akan
mengabulkan doa dia?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar