Rabu, 19 Juni 2019

Fiqih Jenazah




 KAJIAN SINGKAT SHALAT JENAZAH
oleh : Dudung Ramdani, Lc

Kita wajib mengingat kematian dan mempersiapkan diri menghadapinya.
Allah SWT berfirman,
ﯼﯽﯾﯿﰀﰁﰂﰃﰄﰅﰆﰇ
“Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan,” (QS As-Sajdah [32]: 11).[1]
ﮞﮟﮠﮡﮣﮤﮥﮦﮧﮩﮪﮫﮬﮭﮮﮯﮰﯓﯔﯕﯖﯗﯘﯙ
”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya,” (QS Alu Imran [3]: 185).
Rasulullah SAW bersabda,
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ، الْمَوْتِ.
“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian.” (HR At-Tirmidzi, An-Nasai dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, dari sahabat Abu Hurairah RA).[2]
Setelah seseorang wafat, maka tubuh seseorang akan disebut mayit atau jenazah.  Apa itu jenazah? Jenazah, dari sisi bahasa bermakna : Menutupi/membungkus sesuatu.
جَنَزَ الشَّيْءَ يَجْنِزُهُ جَنْزاً أَيْ سَتَرَهُ. إِذَا جَنَزْتُمُوْهَا فَآذِنُوْنِيْ.  
“Janaza sesuatu maksudnya adalah menutupinya. “Jika kalian telah menjanazahkannya (menutupinya/membungkusnya), maka beritahulah aku.”[3]
                Sedangkan di dalam syariat Islam, ada yang disebut dengan shalat jenazah, yaitu :
صَلَاةُ الْمُسْلِمِيْنَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْلَ دَفْنِهِ. ‏
“Shalatnya kaum muslimin terhadap mayit sebelum dia dikuburkan.”[4]
Imam Ibnu Qudamah berkata,[5]
فَصْلٌ: وَ اتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ سُنَّةٌ. قَالَ الْبَرَّاءُ أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَ هُوَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ:
Pasal: Mengantarkan jenazah itu hukumnya sunnat. Al-Barra berkata, Rasulullah Saw telah memerintahkan kepada kami untuk mengantarkan jenazah, dan prosesnya ada tiga macam, yaitu :
  1. Ikut menshalatinya, dan kemudian pergi. (Yaitu hanya ikut menshalati jenazah di masjid dan kemudian dia langsung pergi, tidak ikut mengantarkan jenazah ke pekuburan).
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَ لَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيْرَاطَانِ، قِيْلَ: وَ مَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ: أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ. رواه مسلم.
Dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa menshalati seorang jenazah dan tidak mengikutinya (sampai dikuburkan), maka dia akan mendapatkan pahala satu qirath. Kemudian jika mengikutinya (sampai dikuburkan), maka dia akan mendapatkan pahala dua qirath. Ada seseorang bertanya, ’Apa itu dua qirath’? Nabi bersabda, ’Yang paling kecil dari keduanya seperti gunung Uhud,’” (HR Muslim, hadits no. 2192).
  1. Ikut menshalatinya dan ikut pula menguburkannya, tapi kemudian dia langsung pergi.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ وَ مَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ، قِيْلَ وَ مَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ. متفق عليه
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa menyaksikan seorang jenazah sampai dia menshalatinya, maka dia akan mendapatkan pahala satu qirath, dan barangsiapa menyaksikan jenazah sampai dikuburkan, maka dia akan mendapatkan pahala dua qirath. Ada yang menanyakan, ‘Apa itu dua qirath?’ Beliau bersabda, ‘Seperti dua gunung yang besar,’” (Muttafaq Alaih; HR Muslim, hadits no. 2189). 
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَلَهُ قِيْرَاطٌ فَإِنْ شَهِدَ دَفْنَهَا فَلَهُ قِيْرَاطَانِ، الْقِيْرَاطُ مِثْلُ أُحُدٍ. رواه مسلم.
Dari Tsauban maula Rasulullah SAW beliau bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat atas seorang jenazah, maka dia akan mendapatkan pahala satu qirath, dan jika menyaksikan penguburannya, maka dia akan mendapatkan pahala dua qirath. Satu qirath itu seperti gunung Uhud,” (HR Muslim, hadits no. 2196).
  1. Ikut menshalatinya dan ikut pula menguburkannya, dan tidak langsung pergi, tetapi ikut pula mendoakannya.
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ: اسْتَغْفِرُوْا لِأَخِيْكُمْ وَ سَلُوْا لَهُ التَّثْبِيْتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ. رواه أبو داود
Dari Utsman bin Affan dia berkata, “Adalah Nabi Muhammad SAW jika beliau selesai dari menguburkan mayit, maka beliau berdiri di dekatnya dan bersabda, ‘Mintakanlah ampunan oleh kalian (kepada Allah SWT) untuk saudara kalian ini dan mohonkanlah keteguhan hatinya, karena sekarang dia akan ditanya,” (HR Abu Dawud, hadits no. 3221).
Hadits di atas sesuai dengan firman-Nya,
ﭭﭮﭯﭰﭱﭲﭳﭴﭵﭶﭷ
”Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat...,” (QS Ibrahim [14]: 27)




Dalil yang Menunjukkan Tatacara Shalat Jenazah
Imam An-Nawawi telah menjelaskan kaifiyat (tatacara) shalat jenazah. Beliau berkata,
يُكَبِّرُ أَرْبَعَ تَكبِيْرَاتٍ:
“Bertakbir sebanyak empat kali takbir.”[6]

1. يَتَعوَّذُ بَعْدَ الأُولَى، ثُمَّ يَقْرَأُ فَاتِحَةَ الكِتَابِ.
1. Membaca ta’awwudz kemudian membaca Al-Fatihah.
2. ثُمَّ يُكَبِّرُ الثَّانِيَةَ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَيَقُوْلُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ...
2. Kemudian bertakbir yang kedua, kemudian membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sampai selesai, innaka hamiidun majiidun.
3. ثُمَّ يُكَبِّرُ الثَّالِثَةَ، وَ يَدْعُوْ لِلْمَيِّتِ وَ لِلْمُسْلِمِيْنَ.
3. Kemudian bertakbir yang ketiga dan mendoakan kepada mayit dan kaum muslimin.
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ، فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَ هُوَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَ ارْحَمْهُ، وَ عَافِهِ، وَ اعْفُ عنْهُ، وَ أَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَ وَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَ اغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَ الثَّلْجِ وَ الْبَرَدِ، وَ نَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا، كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَ أَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَ أَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَ زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَ أَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ. حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُوْنَ أَنَا ذَلِكَ الْمَيِّتَ. رواه مسلم.
Dari Abu Abdurrahman Auf bin Malik RA, dia berkata, Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat jenazah, maka aku pun hafal doa beliau, yaitu beliau berdoa, ”Ya Allah ampunilah dia, rahmatilah dia, berilah dia keafiatan, maafkanlah dia, mulyakan tempat tinggalnya, luaskan tempat masuknya, dan cucilah dia dengan air, salju, dan embun dan bersihkanlah dia dari dosa sebagaimana Engkau bersihkan pakaian putih dari noda dan kotoran, dan gantikanlah untuknya sebuah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), juga keluarga yang lebih baik dari keluarganya, masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungi dia dari fitnah kubur dan adzab neraka,” sehingga aku berangan-angan seandainya aku lah yang menjadi mayit itu. (HR Muslim, hadits no. 2234).
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَ أَبِيْ قَتَادَةَ وَ أَبِيْ إِبْرَاهِيْمَ الأَشْهَلِيِّ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَقَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيّنَا وَ مَيّتِنَا، و شَاهِدِنَا و غَائِبِنَا و صَغِيْرِنَا وَ كَبِيْرِنَا، وَ ذَكَرِنَا وَ أُنْثَانَا، اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلاَمِ، وَ مَنْ تَوَفّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَ لَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ. رواه الترمذي
Dari Abu Hurairah, Abu Qatadah dan Abu Ibrahim Al-Asyhaliy dari bapaknya dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya Rasulullah SAW telah melaksanakan shalat jenazah dan beliau berdoa, “Ya Allah, ampuni orang yang masih hidup dan yang telah wafat di antara kami, orang yang hadir dan yang tidak hadir di antara kami, anak kecil dan orang dewasa di antara kami, laki-laki dan perempuan di antara kami. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah di atas agama Islam dan barangsiapa yang Engkau wafatkan di antara kami, maka wafatkanlah di dalam keimanan. Ya Allah, janganlah Engkau haramkan kami dari pahalanya dan janganlah Engkau menguji kami setelahnya,” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 1024, HR Abu Dawud, hadits no. 3201).
عَنْ عَلِيٍّ بْنِ شَمَّاخٍ قَالَ شَهِدْتُ مَرْوَانَ سَأَلَ أَبَا هُرَيْرَةَ كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيَ عَلَى الْجَنَازَةِ؟ قَالَ أَمَعَ الَّذِيْ قُلْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ كَلَامٌ كَانَ بَيْنَهُمَا قَبْلَ ذَلِكَ قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَ أَنْتَ خَلَقْتَهَا وَ أَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلإِسْلَامِ وَ أَنْتَ قَبَضْتَ رُوْحَهَا وَ أَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَ عَلَانِيَتِهَا جِئْنَاكَ شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهَا.
Dari Ali bin Syammakh berkata, aku pernah melihat Marwan bertanya kepada Abu Hurairah, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah SAW (berdoa) saat shalat jenazah?” Abu Hurairah berkata, ‘Apakah dengan adanya ini engkau bertanya?’ Marwan berkata, ‘Ya.’ Marwan berkata, ‘Yaitu ucapan yang dibaca di antara keduanya.’ Abu Hurairah berkata, “Wahai Allah, Engkau lah Rabb jenazah ini, Engkau telah menciptakannya, Engkau telah memberikan hidayah Islam kepadanya, Engkau telah menggenggam ruhnya dan Engkau Mahatahu terhadap rahasia dan yang nampaknya, kami datang meminta syafaat baginya, maka ampunilah dosa dan kesalahannya,” (HR Abu Dawud, hadits no. 3200).
4. ثُمَّ يُكَبِّرُ الرَّابِعَةَ وَيَدْعُو، وَ مِنْ أحْسَنِهِ: اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أجْرَهُ، وَلاَ تَفْتِنَّا بَعدَهُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ.
4. Kemudian bertakbir yang keempat dan berdoa. Di antara doa yang paling bagus adalah berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau haramkan kami dari pahalanya dan janganlah Engkau menguji kami setelahnya, dan ampunilah (dosa-dosa) kami dan (dosa-dosa)-nya.” [7]

 ***
Permasalahan seputar jenazah :
  1. Hukum membawa jenazah ke masjid.
Sebagian besar para ulama membolehkannya, demikian pula dengan Imam Asy-Syafi’ie dan Imam Ahmad.[8] Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Az-Zubair di bawah ini :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَمَرَتْ أَنْ يُمَرَّ بِجَنَازَةِ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ فِيْ الْمَسْجِدِ فَتُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَأَنْكَرَ النَّاسُ ذَلِكَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ : مَا أَسْرَعَ مَا نَسِيَ النَّاسُ، مَا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سُهَيْلِ ابْنِ الْبَيْضَاءِ إِلَّا فِيْ الْمَسْجدِ.
Yaitu berdasarkan hadits Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair bahwasanya Aisyah memerintahkan agar jenazah Sa’ad bin Abi Waqqosh dibawa ke masjid supaya Aisyah bisa menshalatinya. Maka, orang-orang menolak hal ini. Maka Aisyah pun berkata, “Alangkah cepatnya orang-orang lupa, Rasulullah SAW tidak menshalati Suhail bin Al-Baidha kecuali di dalam masjid,” (HR Muslim, hadits no. 2252).

  1. Hukum membaca surat setelah Al-Fatihah di saat shalat jenazah.
Para ulama membolehkan untuk membaca surat setelah Al-Fatihah pada shalat jenazah.
عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَة الْكِتَابِ قَالَ: لِتَعْلَمُوْا أَنَّهَا سُنَّةٌ.
Dari Thalhah bin Abdulah bin Auf dia berkata, “Aku pernah shalat jenazah di belakang Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas membaca surat Al-Fatihah. Dia berkata, ‘Supaya orang-orang tahu bahwa membacanya termasuk sunnah Rasulullah Saw,’” (HR Muslim, hadits no. 1335).

قَالَ طَلْحَةُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَوْفٍ: صَلَّيْتُ خَلْفَ بْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جَنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً وَ جَهَرَ حَتَّى أَسْمَعَنَا، فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْتُ بِيَدِهِ فَقَالَ سُنَّةٌ وَ حَقٌّ.  
Telah berkata Thalhah bin Abdullah, “Aku pernah shalat jenazah di belakang Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas membaca Al-Fatihah dan surat dan menjaharkannya sampai kami mendengarnya. Ketika selesai, saya memegang tangannya. Maka Ibnu Abbas menjawab, “Ini sesuai sunnah dan haq (benar),” (HR Ibnu Hibban dan An-Nasai).

Pendapat Imam Asy-Syaukani :
قَوْلُهُ وَ سُوْرَةً فِيْهِ مَشْرُوْعِيَّةُ قِرَاءَةِ سُوْرَةٍ مَعَ الْفَاتِحَةِ فِيْ صَلاَةِ الْجَنَازَةِ وَلاَ مَحِيْصَ عَنِ الْمَصِيْرِ إِلَى ذَلِكَ لأَنَّهَا زِيَاذَةٌ مِنْ مَخْرَجٍ صَحِيْحٍ.
Dan ucapannya, “membaca Al-Fatihah dan surat” pada hadits itu menunjukkan tentang disyariatkannya untuk membaca surat setelah Al-Fatihah pada shalat jenazah dan tidak ada alasan untuk tidak mengamalkannya karena membaca surat itu diriwayatkan melalui jalan yang shahih. (Nailul Author, Imam Asy-Syaukani, jilid 2, hal. 103).

  1. Apakah boleh shalat jenazah sendirian?
Boleh, jika tidak ada lagi jemaah yang ikut melaksanakan shalat jenazah tersebut. Anjurannya yaitu agar memperbanyak jumlah jemaah shalat jenazah.
a. Anjuran berjumlah 40 orang.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّهُ مَاتَ ابْنٌ لَهُ بِقُدَيْدٍ أَوْ بِعُسْفَانَ، فَقَالَ: يَا كُرَيْبُ، انْظُرْ مَا اجْتَمَعَ لَهُ مِنَ النَّاسِ، قَالَ: فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَاسٌ قَدِ اجْتَمَعُوا لَهُ، فَأخْبَرْتُهُ، فَقَالَ: تَقُوْلُ هُمْ أَرْبَعُوْنَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: أَخْرِجُوْهُ، فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ فَيَقُوْمُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُوْنَ رَجُلًا، لَا يُشْرِكُوْنَ بِاللهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيْهِ. رواه مسلم
Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya putera beliau di sebuah kota yang bernama Qudaid atau Usfan, maka Ibnu Abbas berkata, “Hai Kuraib, lihatlah, ada berapa orang yang sudah berkumpul? Kuraib berkata, maka aku pun segera pergi dan ternyata orang-orang sudah berkumpul. Maka aku pun segera memberitahukan hal ini kepada Ibnu Abbas. Kuraib berkata bahwa Ibnu Abbas bertanya, ’Apakah mereka berjumlah empat puluh orang?’ Aku pun menjawab, ’Ya.’ Ibnu Abbas berkata, ’Bawalah ke luar jenazah ini. Karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak ada seorang jenazah pun yang sudah meninggal dunia dan kemudian dishalati oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah SWT sedikit pun, kecuali Allah akan memberinya syafaat dikarenakan doa mereka itu,” (HR Muslim, hadits no. 2199).

b. Anjuran berjumlah 100 orang.
Hadits Aisyah RA,
مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّيَ عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ يَبْلُغُوْنَ مِئَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُوْنَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوْا فِيْهِ.
“Tidak ada seorang mayyit pun yang dishalati oleh kaum muslimin berjumlah seratus orang, dan semuanya memintakan syafaat untuk si mayit, kecuali mayit tersebut akan diberi syafaat.” (HR Muslim, hadits no. 2198).

c. Anjuran berjumlah 3 shaf shalat jenazah.
عَنْ مَرْثَدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْيَزَنِيِّ قَالَ: كَانَ مَالِكُ بْنُ هُبَيْرَةَ إِذَا صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَتَقَالَّ النَّاسَ عَلَيْهَا جَزَّأَهُمْ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ ثُمَّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوْفٍ فَقَدْ أَوْجَبَ.
Dari Martsad bin Abdullah Al-Yazani dia berkata bahwa Malik bin Hubairah jika dia melaksanakan shalat jenazah kemudian jumlah orang yang akan melaksanakannya sedikit, maka dia akan membaginya menjadi tiga kelompok kemudian dia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, ”Barangsiapa yang jenazahnya dishalati tiga shaf, maka telah wajiblah (mayit akan mendapatkan ampunan dan rahmat Allah SWT),” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 1028).

  1. Jumlah takbir shalat jenazah. Apakah boleh lebih dari 4 kali takbir?  
Boleh. Akan tetapi, yang sering Rasulullah SAW lakukan adalah melaksanakan shalat jenazah sebanyak empat kali takbir.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى لِلنَّاسِ النَّجَاشِيَ فِيْ الْيَوْمِ الَّذِيْ مَاتَ فِيْهِ فَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى وَ كَبَّرَ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ.
Dari Abu Hurairah bahwasanya “Rasulullah SAW tatkala beliau memberitahukan kabar wafatnya Raja Najasyi di hari wafatnya, maka beliau ke luar menuju mushalla, beliau bertakbir sebanyak empat kali takbir,” (HR Muslim, hadits no. 2204).

  1. Doa shalat jenazah terhadap : pria, wanita dan anak kecil.
Doa shalat jenazah antara pria dan wanita sama saja. Sebagian mengatakan bahwa dibedakan dengan kata ganti orangnya saja.
Adapun doa shalat jenazah untuk jenazah anak yang masih kecil (belum baligh) adalah :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا سَلَفًا وَ فَرَطًا وَ أَجْرًَا.
“Wahai Allah, jadikanlah anak ini (yang telah wafat) sebagai simpanan pahala dan pahala untuk kami.” (HR Al-Bukhari, hadits no. 65).
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِوَالِدَيْهِ وَ ذُخْرًا وَ سَلَفًا وَ أَجْرًا، اَللَّهُمَّ ثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَ أَعْظِمْ بِهِ أُجُوْرَهُمَا اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فِيْ كَفَالَةِ إِبْرَاهِيْمَ  وَ أَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ أَجِرْهُ بِرَحْمَتِكَ مِنْ عَذَابِ الْجَحِيْمِ، وَ أَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَ أَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَسْلَافِنَا وَ أَفْرَاطِنَا وَ مَنْ سَبَقَنَا بِالإِيْمَانِ.
“Wahai Allah, jadikanlah anak ini (yang telah wafat) sebagai pahala dan simpanan pahala bagi kedua orang tuanya. Wahai Allah, (dengan musibah ini) beratkanlah timbangan (pahala) kedua orang tuanya dan berilah keduanya pahala yang besar dan jadikanlah dia diasuh oleh Nabi Ibrahim dan kumpulkanlah anak tersebut dengan orang-orang mukmin dan peliharalah dia dengan rahmat-Mu dari siksa neraka Jahim, berilah rumah dan keluarga (di surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia). Wahai Allah, ampunilah para pendahulu kami, keturunan kami dan orang-orang yang mendahului kami dalam keimanan,” (Al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah Jilid 3 hal. 416).

  1. Posisi imam jika jenazah berjumlah banyak; beberapa orang pria, anak-anak dan wanita.
Imam Ibnu Rusydi di dalam kitabnya menyatakan bahwa,
فَقَالَ الأَكْثَرُ: يُجْعَلُ الرِّجَالُ مِمَّا يَلِيْ الإِمَامُ وَ النِّسَاءُ مِمَّا يَلِيْ الْقِبْلَةُ. (وَ مِنْهُمُ الأَئِمَّةُ الأَرْبَعَةُ).
“Mayoritas para ulama mengatakan: Jenazah-jenazah pria dijadikan di dekat imam dan jenazah-jenazah wanita di arah qiblat. (Demikianlah pendapat para ulama yang Empat).” [9]  
عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ سَمِعْتُ نَافِعًا يَزْعُمُ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ صَلَّى عَلَى تِسْعِ جَنَائِزَ جَمِيْعًا فَجَعَلَ الرِّجَالُ يَلُوْنَ الإِمَامَ وَ النِّسَاءُ يَلِيْنَ الْقِبْلَةَ فَصَفَّهُنَّ صَفًّا وَاحِدًا وَ وُضِعَتْ جَنَازَةُ أُمِّ كُلْثُوْمٍ بِنْتِ عَلِيِّ امْرَأَةِ
 عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَ ابْنٍ لَهَا يُقَالُ لَهُ زَيْدٌ وُضِعَا جَمِيْعًا وَ الإِمَامُ يَوْمَئِذٍ سَعِيْدُ بْنُ الْعَاصِ وَ فِيْ النَّاسِ ابْنُ عُمَرَ وَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ وَ أَبُوْ سَعِيْدٍ وَ أَبُوْ قَتَادَةَ فَوُضِعَ الْغُلَامُ مِمَّا يَلِيْ الإِمَامَ فَقَالَ رَجَلٌ فَأَنْكَرْتُ ذَلِكَ فَنَظَرْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ وَ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَ أَبِيْ سَعِيْدٍ وَ أَبِيْ قَتَادَةَ فَقُلْتُ مَا هَذَا؟ قَالُوْا هِيَ السُّنَّة
ُ.
“Dari Ibnu Juraij dia berkata, aku pernah mendengar Nafi mengaku bahwasanya Ibnu Umar pernah menyalati sembilan jenazah secara bersamaan, maka jenazah-jenazah pria posisinya di dekat imam dan jenazah-jenazah wanita di dekat qiblat. Semua jenazah wanita tersebut dibariskan dalam satu baris dan jenazah Ummu Kultsum binti Ali, isterinya Umar bin Khaththab dan puteranya yang bernama Zaid diletakkan bersamaan. Sedangkan imamnya, saat itu adalah Said bin Al-Ash, dan di antara yang hadir ada Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abu Said, dan Abu Qatadah. Maka jenazah anak kecil tersebut diletakkan di dekat imam. Maka ada seseorang berkata, aku menolak hal ini. Maka aku pun melirik ke Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Said dan Abu Qatadah, aku pun berkata, ‘Apa ini?’ Maka mereka menjawab, ‘Ini merupakan sunnah.’ ”(HR An-Nasai, hadits no. 1980).


  1. Hukum masbuq shalat jenazah.
    1. Tidak perlu mengqadha takbir yang kurang (ikut salam bersama imam, pen.)[10]
    2. Harus mengqadha takbir yang tertinggal. (walaupun jenazah sudah dibawa ke pekuburan, pen.)[11]
    3. Memilih antara mengqadha takbir atau salam bersama dengan imam.[12]
    4. Shalat jenazah di kuburannya, HR Muslim, hadits no. 2215 dengan syarat maksimal sebelum berlalu satu bulan.[13] (Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusydi, juz ke-2, Kitabu Ahkamil Mayyit, hal. 1054-1055)
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا فَقَدَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ فَقَالُوْا: مَاتَ، قَالَ: أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُوْنِيْ؟ قَالَ: فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوْا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ فَقَالَ: دُلُّوْنِيْ عَلَى قَبْرِهِ فَدَلُّوْهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الْقُبُوْرَ مَمْلُوْءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِيْ عَلَيْهِمْ.
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya dahulu ada seorang wanita (atau seorang pemuda) berkulit hitam yang suka menyapu di masjid. Maka, Rasulullah SAW merasa kehilangan atas wanita tersebut. Para sahabat menjawab, ”Dia telah wafat.” Rasulullah SAW bersabda, ”Mengapa kalian tidak memberitahukan hal ini kepada saya?” Abu Hurairah berkata, ’Seolah-olah para sahabat menganggap remeh pekerjaan dia.’ Maka beliau bersabda, ”Bawalah aku ke kuburannya!” Maka para sahabat pun menunjukkan kuburannya kepada beliau, maka beliau pun shalat di atasnya. Kemudian beliau bersabda, ”Sesungguhnya kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allah SWT telah menerangi kuburan-kuburan mereka ini disebabkan shalat saya ini untuk mereka,” (HR Muslim, hadits no. 2215).

  1. Bagaimana doa ziarah ke kuburan kaum muslimin?
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ خَرَجَ إِلَى الْمَقْبَرَةِ فَقَالَ: اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ.
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW (telah) pergi menuju ke pekuburan, maka beliau bersabda, “Semoga keselamatan atas kalian, kampungnya orang-orang yang beriman, dan kami in syaa allooh akan menyusul kalian,” (HR Muslim, hadits no. 585).
وَ فِيْ رِوَايَةِ زُهَيْرٍ: اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُوْنَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَ لَكُمُ الْعَافِيَةَ.
Dari riwayat Zuhair, “Semoga keselamatan atas kalian para penghuni kampung ini dari kalangan mu`minin dan muslimin, dan kami in syaa allooh benar-benar akan menyusul kalian, aku memohon kepada Allah keafiyatan untuk kami dan kalian,” (HR Muslim, hadits no. 2257).

  1. Bagaimana doa ziarah ke kuburan non muslim?
عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أَبِيْ كَانَ يَصِلُ الرَّحِمَ وَ كَانَ وَ كَانَ فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ فِيْ النَّارِ، قَالَ فَكَأَنَّهُ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ، فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَأَيْنَ أَبُوْكَ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ مُشْرِكٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ، قَالَ فَأَسْلَمَ الْأَعْرَابِيُّ بَعْدُ، وَ قَالَ لَقَدْ كَلَّفَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَبًا، مَا مَرَرْتُ بِقَبْرِ كَافِرٍ إِلَّا بَشَّرْتُهُ بِالنَّارِ.
Dari Salim dari Bapaknya, dia berkata, telah datang seorang Arab pedalaman menghadap Nabi SAW, maka dia bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku suka menyambung tali silaturahim, dia juga suka melakukan ini dan ini, maka di manakah dia sekarang?” Beliau SAW menjawab, “Dia di neraka.” Salim berkata, “Seolah-olah si Arab pedalaman itu merasa tersinggung dengan ucapan itu.” Maka dia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah Bapak Anda?” Rasulullah SAW menjawab, “Kapan saja engkau melewati sebuah kuburan orang musyrik, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan neraka.” Salim berkata, maka si Arab pedalaman ini masuk Islam, dan dia berkata, “Rasulullah SAW telah memberikan perintah yang menyusahkan, yaitu setiap kali aku melewati sebuah kuburan orang kafir, maka aku pasti sampaikan kabar gembira kepadanya dengan neraka.” (HR Ibnu Majah, hadits no. 1573)

  1. Bagaimana hukumnya menguburkan dua jenazah di dalam satu liang lahad?[14]
Di dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW menguburkan dua jenazah di dalam satu liang lahad.
عَنْ مُطَّلِّبٍ قَالَ: لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُوْنٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ حَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ قَالَ كَثِيْرٌ: قَالَ الْمُطَّلِّبُ: قَالَ الَّذِيْ يُخْبِرُنِيْ (ذَلِكَ) عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: كَـأَنَّيْ أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَيْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ حِيْنَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَ قَالَ: أَتَعَّلَمُ بِهَا قَبْرَ أَخِيْ وَ أَدْفَنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِيْ.
Dari Muththallib, dia berkata, “Tatkala Utsman bin Mazh’un wafat, maka jenazahnya dikeluarkan dan dikuburkan. Maka Nabi Muhammad SAW menyuruh seseorang untuk membawakan sebongkah batu, akan tetapi dia tidak kuat membawanya. Maka Rasulullah SAW berdiri menuju batu tersebut dan beliau menyibakkan kedua lengannya. Katsir berkata bahwa Muththallib berkata (bahwa) telah berkata yang memberitahukan hal itu kepadaku dari Rasulullah SAW, dia berkata, ‘Seolah –olah aku melihat putihnya kedua lengan Rasulullah SAW tatkala beliau menyibakkan keduanya, kemudian membawa batu tersebut dan diletakkan di posisi kepala (kuburan bagian kepala, penerj)’ dan beliau bersabda, “Aku membuatkan tanda dengan batu ini atas kuburan saudara lelakiku dan aku akan menguburkan satu liang lahad, siapa saja dari keluargaku yang telah meninggal dunia,’” (HR Abu Dawud, hadits no. 3206).

  1. Membuat tanda di atas kuburan, baik terbuat dari batu atau kayu.
Para ulama berpendapat bahwa meletakkan sebuah batu atau kayu di bagian kepala dari kuburan seorang muslim adalah sunnah Rasulullah SAW.
عَنْ مُطَّلِّبٍ قَالَ: لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُوْنٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلًا أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ، فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ حَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ قَالَ كَثِيْرٌ: قَالَ الْمُطَّلِّبُ: قَالَ الَّذِيْ يُخْبِرُنِيْ (ذَلِكَ) عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: كَـأَنَّيْ أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَيْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ حِيْنَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَ قَالَ: أَتَعَّلَمُ بِهَا قَبْرَ أَخِيْ وَ أَدْفَنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِيْ.
Dari Muththallib, dia berkata, “Tatkala Utsman bin Mazh’un wafat, maka jenazahnya dikeluarkan dan dikuburkan. Maka Nabi Muhammad SAW menyuruh seseorang untuk membawakan sebongkah batu, akan tetapi dia tidak kuat membawanya. Maka Rasulullah SAW berdiri menuju batu tersebut dan beliau menyibakkan kedua lengannya. Katsir berkata bahwa Muththallib berkata (bahwa) telah berkata yang memberitahukan hal itu kepadaku dari Rasulullah SAW, dia berkata, ‘Seolah –olah aku melihat putihnya kedua lengan Rasulullah SAW tatkala beliau menyibakkan keduanya, kemudian membawa batu tersebut dan diletakkan di posisi kepala (kuburan bagian kepala, penerj)’ dan beliau bersabda, “Aku membuatkan tanda dengan batu ini atas kuburan saudara lelakiku dan aku akan menguburkan satu liang lahad, siapa saja dari keluargaku yang telah meninggal dunia,’” (HR Abu Dawud, hadits no. 3206).

  1. Bolehkah menguburkan jenazah di malam hari?
Ada sebuah riwayat dari Imam Ahmad yang memakruhkan penguburan jenazah di malam hari berdasarkan hadis riwayat Muslim berikut ini
قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِيْ أَبُوْ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ خَطَبَ يَوْمًا فَذَكَرَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِهِ قُبِضَ فَكُفِّنَ فِيْ كَفَنٍ غَيْرِ طَائِلٍ وَ قُبِرَ لَيْلًا فَزَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ يُقَبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ إِلَّا أَنْ يُضْطَرَّ إِنْسَانٌ إِلَى ذَلِكَ وَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ.
Telah berkata Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abu Zubair bahwasanya dia telah mendengar Jabir bin Abdullah menceritakan, “Bahwa pada suatu hari Nabi SAW berkhutbah, kemudian beliau menyebutkan kisah tentang salah seorang sahabatnya yang meninggal dan dikafani dengan kain yang tidak menutupi seluruh badannya, dan dikuburkan di malam hari. Maka Rasulullah SAW melarang seseorang (mayit) untuk dikuburkan di malam hari sebelum dishalati, kecuali jika keadaannya sangat terpaksa. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian mengafani saudaranya, maka hendaknya dia memperbagus kafannya.’” (HR Muslim, hadits no. 2185).

  1. Hukum memakai sandal ke kuburan.
Para ulama telah sepakat bahwa tidak mengapa untuk memakai sandal ke pekuburan. Mereka berdalil dengan sebuah hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari,
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِيْ قَبْرِهِ، وَ تَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، وَ إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ، أَتَاهُ مَلَكَانِ، فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُوْلَانِ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِيْ هَذَا الرَّجُلِ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ، فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ، قَدْ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ، فَيَرَاهُمَا جَمِيْعًا. قَالَ قَتَادَةُ وَ ذُكِرَ لَنَا: أَنَّهُ يُفْسَحُ فِيْ قَبْرِهِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى حَدِيْثِ أَنَسٍ، قَالَ: وَ أَمَّا الْمُنَافِقُ وَ الْكَافِرُ فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِيْ هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُوْلُ: لَا أَدْرِيْ، كُنْتُ أَقُوْلُ مَا يَقُوْلُهُ النَّاسُ، فَيُقَالُ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ، وَ يُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيْدٍ ضَرْبَةً، فَيَصِيْحُ صَيْحَةً، يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيِْهِ غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ.
Dari Anas bin Malik RA, bahwasanya dia telah bercerita kepada mereka (para sahabat), bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba jika sudah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya telah pergi meninggalkannya, sesungguhnya dia bisa mendengar suara sandal-sandal mereka. Maka akan datang kepadanya dua malaikat yang keduanya akan mendudukkannya seraya keduanya berkata kepadanya, ‘Apa yang engkau akan katakan tentang laki-laki ini, yaitu Nabi Muhammad SAW?’ Maka jika dia seorang yang beriman akan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya.’ Maka akan dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantikannya dengan tempat duduk di surga. Maka dia pun dapat melihat keduanya (surga dan neraka).’ Qatadah berkata, dan disebutkan kepada kami, “Bahwasanya sang hamba tersebut akan dilapangkan di kuburnya.’ Kemudian kembali ke hadits Anas bin Malik, dia berkata, “Adapun orang munafiq atau orang kafir, maka akan ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang engkau akan katakan tentang laki-laki ini, yaitu Nabi Muhammad SAW?’ Maka dia akan menjawab, ‘Aku tidak tahu, aku hanya berkata, mengikuti apa yang dikatakan orang-orang.’ Maka akan dikatakan kepadanya, ”Kamu tidak mengetahuinya?” Maka kemudian dia dipukul dengan sebuah palu terbuat dari besi dengan sebuah pukulan, maka dia pun berteriak dengan sebuah teriakan yang dapat didengar oleh yang ada di sekitarnya, kecuali oleh dua makhluq (yaitu jin & manusia),’” (HR Al-Bukhari, hadits no. 1374).

Adapun hadits yang berisi larangan memakai sandal ke pekuburan, adalah berdalil dengan sebuah hadits berderajat hasan. Pendapat yang menyatakan bahwa memakai sandal ketika masuk ke wilayah pekuburan adalah makruh, kecuali ada alasan. Pendapat ini lebih menguatkan akan sunnahnya melepas sandal bagi orang yang masuk ke area pekuburan. Sebab dengan melepas sandal, berarti dia lebih tawadhu serta menghormati mayit-mayit kaum muslimin. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad berpendapat bahwa larangan Rasulullah SAW terhadap seseorang yang memakai sandal di areal pekuburan, hanya makruh saja, tidak sampai mencapai derajat haram. Ini juga pendapat Ibnu Qudamah di dalam kitab Al-Mughni, juz ke-3 hal. 514-515.
عَنْ بَشِيْرٍ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ كَانَ اسْمُهُ فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ زَحْمٌ بْنُ مَعْبَدٍ فَهَاجَرَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا اسْمُكَ؟ قَالَ زَحْمٌ قَالَ بَلْ أَنْتَ بَشِيْرٌ قَالَ: بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِيْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُشْرِكِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلَاءِ خَيْرًا كَثِيْرًا ثَلَاثًا ثُمَّ مَرَّ بِقُبُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَالَ لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلَاءِ خَيْرًا كَثِيْرًا وَ حَانَتْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظْرَةٌ فَإِذَا رَجَلٌ يَمْشِيْ فِيْ الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلَانِ فَقَالَ: يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ، فَنَظَرَ الرَّجُلُ، فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا.  رواه أبو داود
Dari Basyir maula (mantan budak) Rasulullah SAW, dan namanya dahulu semasa Jahiliyyah adalah Zahem bin Ma’bad. Dia ikut berhijrah bersama Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ‘Siapakah namamu?’ Maka dia berkata, ‘(Nama saya) Zahem!’ Maka beliau Saw bersabda, “Nama kamu adalah Basyir.” Basyir berkata, “Pada saat aku sedang berjalan-jalan bersama Rasulullah SAW dan melewati pekuburan orang-orang musyrik, maka beliau bersabda, ‘Sungguh, telah berlalu kepada mereka kebaikan yang banyak,’ sebanyak tiga kali. Kemudian beliau pun melewat pekuburan orang-orang muslim, maka beliau bersabda, ‘Sungguh, mereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak.’ Tiba-tiba, pandangan Rasulullah SAW tertuju kepada seorang lelaki yang sedang berjalan di areal pekuburan dengan memakai kedua sandalnya. Maka beliau bersabda, ‘Hai pemilik sandal kulit, celaka lah kamu, lemparkan kedua sandal kulitmu itu!’ Lelaki itu pun memandang. Maka tatkala dia tahu bahwa itu adalah Rasulullah SAW, maka dia pun melepaskan kedua sandal kulitnya dan melemparkannya,’ ” (HR Abu Dawud, hadits no. 3230).


***








































[1] Siapakah yang dimaksud dengan malaikat maut itu? Sebagian riwayat menyebutkan bahwa nama malaikat maut ini yaitu ‘Izrail. Sesungguhnya malaikat ‘Izrail tidak kuasa untuk mencabut ruh seekor nyamuk pun, sehingga Allah SWT memerintahkannya untuk mencabutnya. Disebutkan bahwa ‘Izrail senantiasa memeriksa setiap orang pada jam-jam shalat lima waktu. Disebutkan pula bahwa Izrail memeriksa setiap orang dalam sehari sebanyak lima kali sehingga dia sangat hafal dengan setiap orang, baik yang sudah dewasa maupun yang masih anak-anak. Disebutkan pula, dia mengecek setiap orang sebanyak dua sampai tujuh kali dalam sehari. Apakah di rumah ini ada seseorang yang diperintahkan untuk diwafatkan olehnya? (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3 hal. 428)
[2] Lihat kitab Bulughul Maram, Kitabul Janaiz, hal.153.
[3] www.almaany.com. Lihat juga di Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, hal. 214.
[5] Lihat kitab Al-Mughni, karya Imam Ibnu Qudamah, jilid 3 hal. 395-396.
[6] Abu Hurairah RA mengatakan sesungguhnya tatkala Rasulullah SAW memberitakan tentang wafatnya Raja Najasyi pada hari wafatnya, maka beliau pun ke luar menuju mushalla dan beliau bertakbir sebanyak empat kali takbir. (HR Muslim, hadits no. 2204).
[7] Lihat kitab Riyadhush Shalihin, karya Imam An-Nawawi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, Riyadh KSA, hal. 330.
[8] Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid juz ke-2 hal. 1091.
[9] Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusydi, jilid 2, Kitabu Ahkamil Mayyit, hal. 1046.
[10] Inilah pendapat Imam Al-Auza’ie, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid juz ke-2 hal. 1051.
[11] Inilah pendapat yang disepakati oleh Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’ie, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid juz ke-2 hal. 1051.
[12] Inilah pendapat Imam Ahmad, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid juz ke-2 hal. 1051.
[13] Hal ini mengacu kepada hadits Said bin Al-Musayyib, “Bahwasanya Ummu Sa’ad telah wafat dan Nabi Muhammad SAW sedang tidak ada di tempat (di Madinah). Maka tatkala beliau tiba (ke Madinah), maka beliau menyalati Ummu Sa’ad. Hal ini terjadi setelah berlalu satu bulan.” (HR At-Tirmidzi, hadits no. 1038).
[14] Orangtua Jabir bin Abdullah, yaitu Abdullah bin Amer bin Haram dikuburkan di dalam satu liang lahad bersama dengan Amer bin Jamuh yang merupakan sahabat karib tatkala keduanya syahid di perang Uhud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar